Kemarin seakan jadi hari yang berat bagiku. Aku memang tidak pernah sanggup mendengar berita yang buruk. Terlalu menyayat hati. Terlalu menyesakkan. Menyulitkanku untuk bernafas. Air mata saja enggan untuk merintik.
Jika bisa mengambil sakit ini. Maka akan kutarik keluar semuanya. Memasukkannya kedalam kantung plastik hitam dan membuangnya jauh-jauh.
Entah apa yang aku pikirkan tentang ini semua. Terus melawan atau menyerah. Sungguhnya aku tak punya kuasa untuk membaca pikiranku sendiri. Begitupun untuk menentukan mana yang terbaik untuk diriku sendiri. Satu-satunya yang kupunya adalah lantunan doa-doa tanpa henti yang selalu aku kirimkan setiap malam.
Dan ini takkan pernah berhenti aku panjatkan.
Sekarang pukul 1:23 dini hari. Semoga pada saat aku menuliskan ini. Kamu sedang tidur. Nyenyak tanpa gangguan. Dan ketika pagi menjelang, kamu merasa lebih baik.
Bonne nuit, un beau rêve! Bisous..
Buku sudah tamat dan pintu sudah ditutup. Rapat. Hari pun sudah berlalu. Saya dahulu pernah meyakini. Teramat yakin sampai tak mampu terpatahkan. Hingga keyakinan itu terkikis perlahan. Habis terkhianati ragu. Dulu saya punya banyak percaya. Terlampau percaya. Sampai kepercayaan itu perlahan menjadi kabur. Seperti pandangan mata yang digenangi air mata. Ketika saya memutuskan untuk pergi. Saya berpikir. Kepergian ini akan memberikan saya waktu untuk berpikir banyak. Menimbang kembali. Kemudian saya menyadari bahwa saya sudah tak lagi merasa mampu untuk berusaha. Tenaga sudah habis untuk memperjuangkan sesuatu yang bahkan tak mau bersusah payah mempertahankan diri saya. Bukan lagi hati yang mendung dan hujan deras di mata yang ingin saya rasakan. Tidak satu kali lagi. Pun beribu kali. Ada kebahagiaan didepan mata yang tengah saya kejar. Ada mimpi yang saya ingin wujudkan. Ada suatu kehidupan baru yang teramat ingin saya jalani. Ada harapan yang sedang aku tata dengan perlahan.
Maka, maaf, tapi jangan. Tolong jangan lagi datang dan mengusik.