:)

Kemarin seakan jadi hari yang berat bagiku. Aku memang tidak pernah sanggup mendengar berita yang buruk. Terlalu menyayat hati. Terlalu menyesakkan. Menyulitkanku untuk bernafas. Air mata saja enggan untuk merintik.

Jika bisa mengambil sakit ini. Maka akan kutarik keluar semuanya. Memasukkannya kedalam kantung plastik hitam dan membuangnya jauh-jauh.

Entah apa yang aku pikirkan tentang ini semua. Terus melawan atau menyerah. Sungguhnya aku tak punya kuasa untuk membaca pikiranku sendiri. Begitupun untuk menentukan mana yang terbaik untuk diriku sendiri. Satu-satunya yang kupunya adalah lantunan doa-doa tanpa henti yang selalu aku kirimkan setiap malam.

Dan ini takkan pernah berhenti aku panjatkan.

Sekarang pukul 1:23 dini hari. Semoga pada saat aku menuliskan ini. Kamu sedang tidur. Nyenyak tanpa gangguan. Dan ketika pagi menjelang, kamu merasa lebih baik.

Bonne nuit, un beau rêve! Bisous..

buku

Buku sudah tamat dan pintu sudah ditutup. Rapat. Hari pun sudah berlalu. Saya dahulu pernah meyakini. Teramat yakin sampai tak mampu terpatahkan. Hingga keyakinan itu terkikis perlahan. Habis terkhianati ragu. Dulu saya punya banyak percaya. Terlampau percaya. Sampai kepercayaan itu perlahan menjadi kabur. Seperti pandangan mata yang digenangi air mata. Ketika saya memutuskan untuk pergi. Saya berpikir. Kepergian ini akan memberikan saya waktu untuk berpikir banyak. Menimbang kembali. Kemudian saya menyadari bahwa saya sudah tak lagi merasa mampu untuk berusaha. Tenaga sudah habis untuk memperjuangkan sesuatu yang bahkan tak mau bersusah payah mempertahankan diri saya. Bukan lagi hati yang mendung dan hujan deras di mata yang ingin saya rasakan. Tidak satu kali lagi. Pun beribu kali. Ada kebahagiaan didepan mata yang tengah saya kejar. Ada mimpi yang saya ingin wujudkan. Ada suatu kehidupan baru yang teramat ingin saya jalani. Ada harapan yang sedang aku tata dengan perlahan.

Maka, maaf, tapi jangan. Tolong jangan lagi datang dan mengusik.

dharayani:

bila dirimu sekarang sedang menunggu seseorang untuk menjanani kehidupan menuju ridhoNya, bersabarlah dengan keindaham. Demi Allah dia tidak datang karena ketampanan, kecantikan, kepintaran, ataupun kekayaan tapi Allah lah yang menggerakan. janganlah tergesa-gesa untuk mengekspresikan cinta kepada…

(via natyataniarza)

hafizhsaftian:

Jika engkau bertanya,”Apa itu permib?”
Maka akan aku ceritakan semua tentang kita.
Tentang kisah dahulu, saat kita bersama.

Jika engkau bertanya, akan ku ceritakan saat kita tertawa lepas bersama.
Melepas semua beban yang ada, sejenak keluar dari realita yang ada.

Jika engkau bertanya, maka akan kukisahkan tentang mereka yang ada disekeliling kita, ketika kita merasa sendiri yang tak akan beranjak sampai tangis itu berhenti menetes.
Sampai seberkas senyum mengembang kembali.

Jika engkau bertanya, akan kuceritakan tentang kisah kita berdua.
Tentang perasaan antara kita yang datang begitu saja. 
Walau tanpa disadari kadang cinta itu salah.
Namun mereka tetap dapat mengerti.

Akan kuceritakan ketika kita berkumpul bersama.
Tingginya gunung yang kita daki. 
Padatnya kota pernah kita lalui.
Luasnya samudera pernah kita jumpai.

Sering kita berbincang, bercerita entah kemana.
Berdiskusi tentang hidup atau bernyanyi tentang indahnya dunia.

Mereka yang selalu ada ketika bagaimanapun kita.
Mereka yang pundaknya selalu ada untuk bersandar.
Yang tangannya selalu kuat untuk menggapai.
Yang selalu siap menemani sampai malam tiba.

Walau terkadang mereka membuat kita jengkel.
Namun selalu ada seberkas senyum atau luapan tawa yang terkembang.

Kumpulan puzzle yang tercecer.
Saudara yang hilang dari silsilah. 
Kita KELUARGA.
Karena kita yakin, keluarga bukan hanya tentang pertalian darah.
Keluarga adalah tentang perasaan hati terikatnya batin, persamaan yang menyatukan kita, perbedaan yang membuat kita lengkap.
Seucap kalimat yang akan selalu kita teriakan. 
Untuk satu kota dimana kita lahir dan dibesarkan

“BANDUNG! HADE PISAN EUY!”